Zona yang membebaskan fikiran, khayalan, keinginan, dan harapan. It's just fiction.

Tampilkan postingan dengan label Sajak-sajak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sajak-sajak. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 Juni 2012

Diam tanpa Koma

by: Umi_k

Kau bilang, kau muak dengan puisiku
Maka aku diam.
Kau bilang, kau bosan dengan kalimatku
Maka aku diam tak bicara.
Kau bilang, kau lelah dengan kata
Maka aku diam tanpa bahasa
Kau bilang, kau enggan mendengar
Maka aku diam tanpa koma.

Aku hanya menatapmu
Seperti yang kau mau,
Diam.

Melihatmu berkeluh kesah,
Tanpa komentar, aku tetap hanya diam.
Hingga kau lelah,
Lalu ikut terdiam.

Sejenak hanya ada satu kata,
Diam.

Lalu kau bilang,
Sepi tanpa kata.
Aku tetap diam.
Kau bilang, kau rindu suaraku...
Aku diam membentuk sebuah senyuman
Kau bilang, tak tahan melihatku yang diam

Aku pun seperti yang kau mau,
Tak lagi diam.
Puisi yang sedikit jenaka membuka kedua bibir yang tak tahan lagi untuk melepaskan katup.

Puisi itu...
Puisi ini.

Puisi diam tanpa koma
Yang membuat ringai tak percaya, gembira, di wajahnya..

Puisi yang membuat kau tertawa,
Aku hanya membalasnya dengan senyum tanpa dosa.

Dan benar...
Diam itu tanpa koma,
Karena tak ada huruf yang memulainya.

Masih muakkah ?
Read More

Ujung Keraguan


Semuanya telah berlabuh
Dan disini...
Ku masih saja berlayar di laut ragu
Menyusun setiap luka yang semakin membuatnya perih

Biarlah...
Toh, aku menikmati kebingungan ini

Kepasrahan yang tak bertepi
Karena sebuah keyakinan yang terlalu dalam terpatri,
Allah yang Maha Mengetahui
Sang Tahu semua isi hati...

Biarlah...
Toh,aku menikmati kebingungan ini

Jadi berhentilah menghakimi.
Tak ada yang berhak menjadi seorang hakim..
Karena usaha seseorang bukan hanya untuk sepasang mata.
Mengadili sekalipun rasa yang kau sendiri tak mengerti...
Ngerti ?!

Biarlah,
Toh aku menikmati kebingungan ini

Cerita-Nya lebih indah dari cerita yang kuharapkan
Meski itu sungguh membuatku semakin sedih

Toh,Allah ujung dari semua ragu di muka bumi..

Toh...

Toh.

.

...
...

Tetap saja sakitnya sampai ulu hati.


by: umi_k
Read More

Minggu, 20 Mei 2012

Perang Saudara Sebangsa


Mati,
Derak-derak ranting yang hampir patah, tergantung menunggu mautnya
Saksi kematian manusia, rupanya tak cukup merusuhkan malam tadi..
Rupanya nyawa hanya menjadi seonggok bangkai yang terkulai lemah karena sesama,
Harus berapa tangis Ibu yang terkucur,,,
Bukan karena teramat sayang ketulusan bersumber dari dadanya, karena ia hanya dapat merasakan susah dalam waktu pembesaran nyawa, tapi belum sempat ia cicipi waktu santai, sudah kau sibukkan dengan biaya pemakaman dan waktu depan untuk meminta Tuhan memanjangkan umurnya, doanya, susahnya…
Bangsa sibuk dengan pencongan dasi yang menjerat lehernya,
Negara sedang bersolek dengan gencu merah merekah darah untuk memikat sesama, menutupi koreng, daki, dan tubuhnya dalam balutan kebaya.
Sibuk nian mereka,
Dengan siapa kau akan mengadu,,,
Pada Nusantara,
Pada Majapahit atau Singosari ???
Pada sejarah, tengoklah masa emas lalu. Semaumu…
Kubiarkan kau terbuai, diam, tak bergerak, biar waktu luput dari otakmu dan kau telah tertinggal jauh.
Jauh,
Sangat jauh…
Setelah itu, sadarmu terbangun dari sajak batu.
Seni,
Karya,
Senjata ampuh bak bambu runcing, kau tusuk waktu dengan budayamu,
Omongmu,
Pikiranmu,
Nyawamu…
Parang bening yang tak bisa disalahkan karena transparan, dan mengena tanpa rasa salah akibat kesalahan.
Tapi bila terlalu menusuk sampai ulu hati, dan bisa mati…
Nyawamu tersungkur dalam bangkai kerusuhan.
Kita satu dalam ini.  Kita batu dalam ini. Kita mati dalam sepi.
Karena kita saudara, bersaudara, untuk menghakimi saudara kita sendiri yang menyusahkan sesama saudara.
Benarkan Saudara?
Jangan tersinggung, jika kamu tak merasa. Tapi jika ternyata ia,,,
Ini untuk Saudara!
Kedamaian untuk menggambarkan kerusuhan…
Disini damai, tenang, dan tak terjamah.
Disini persatuan semu untuk semua perceraian.
Untung ada seni,
Seni,
Seperti kucuran air di pagi hari, itulah seni.
Mati,
Seni malam ini belum mati, entah esok ada lagi atau…
Karena seni masih dikerangkeng dalam penjara emas,
Mungkin subuh nanti ia akan bunuh diri,
Krreeek, kreek, krek.
Seok kaki manusia berjalan menjaga jeruji.
Malam tadi ada kerusuhan antar saudara sebangsa, ada saudara Saudara yang tertusuk ranting.
…
…
Untuk ada yang rusuh, jadi diam ini terasa seperti kedamaian pagi.
Ucap Ibu lirih,
Jasad Kakakku kaku diantar Polisi setengah jam tadi.

by : umi_k

Read More
fr33Zoonecustume. Diberdayakan oleh Blogger.

PopullaryierZ

© Fr33Zoone, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena